Dipagi hari yang cerah tim the Gowa Center menuju kabupaten Jene’ponto
untuk melaksanakan sebagai mana program TGC untuk perpanjangan ACCESS tahap II
Yakni melakukan pengumpulan dan pendokumentasian praktek baik yang berada di lima
Kabupaten yakni Gowa, Takalar, Je’neponto, Bantaeng, dan Selayar yang
berada di Sulsel.
Sehari sebelum keberangkatan menuju ke tempat tujuan disampaikan bahwa kita
berangkat ke Je’neponto pukul 08.00 berarti sebelumnya saya harus mempersiapkan semua keperluan karena direncanakan dari Je’neponto
lanjut ke Bantaeng. Sesampai di rumah, saya
langsung berkemas-kemas mempersiapakan apa yang saya butuhkan karena rencana
kita berada di Je’neponto dan Bantaeng selama satu minggu. Malam hari saya
menyetrika kemudian langsung memasukkan pakaian kedalam tas karena saya takut
terlambat apabila nanti besok pagi baru dibereskan semua.
Pagi hari saya cepat-cepat bangun memasak kemudian sarapan, Hp tak pernah
lepas dari tanganku menunggu telpon atau sms, Sebelumnya saya sudah sampaikan
sama Kurni kalau saya menunggu di rumah saja sebagaimana biasa apabila ada
kunjuangan di pagi hari yang melewati rumah,
saya tidak datang lagi di kantor tetapi menunggu di pinggir jalan raya
depan lorong rumah saya.
Sekitar pukul 08 lewat, Hp berdering lalu saya buka sms saya baca dengan tergesa-gesa disuruh cepat
keluar ke jalan raya karena tim TGC
sudah ada di tempat semua dan sudah mau berangkat. Saya tidak menyiakan-nyiakan
waktu saya langsung ambil tas pakaian kemudian pamit lalu berangkat karena saya
takut jangan sampai lebih duluan datang tim TGC daripada saya, dan saya tidak
mau ditunngu. Dari rumah menuju jalan raya ada tetangga yang menyapa mau
kemana? Sepertinya mau pergi jauh sambil ketawa mungkin dia bertanya seperti
itu karena banyak tas yang saya bawa maklum tidak ada tas besarku owdonk,
sayapun balas dengan senyuman sambil menjawab dengn tidak jelas” iye mau
keeeeee” sambil berjalan tergesa-gesa.
Tapi sampai di jalan raya, perut saya keronconngan karena waktu saya
sarapan, nasi tersendak-sendak turun jadi saya tidak habiskan nasi yang ada di piring,
entahlah kenapa seperti itu!!! lalu saya
menuju toko dengan niat membeli roti, toko yang agak jauh dari depan lorong
rumah saya. Pas keluar dari toko mobil yang akan saya tumpangi perlahan-lahan
sudah mau berhenti, sayapun kembali lari
tergesa-gesa untung saja waktu mau menyeberang tidak ada kendaraan yang lewat,
saya bersyukur karena tidak terlalu lama ditunggu kemudian saya buka pintu mobil lalu saya naik,
orang pada diam lalu saya ambil Hp dalam
tas kemudian saya buka ternyata ada sms dari Kurni dari tadi belum saya baca,
tenyata disuruh cepat keluar dan disuruh menyeberang duluan sebelum mobil tim
TGC tiba karena ada yang marah-marah katanya. Muncul di benak saya apakah saya
yang dimarahi!!! Karena tidak sempat ke kantor atau karena saya agak terlambat
sedikit datang!!! Entahlah aku tak tahu tapi itu yang berputar-putar dalam
pikiranku. Saya tidak sabar dan mau tahu siapa yang dimarahi, dengan suara
nada-nada isyarat saya bertanya sama Kurni apakah saya yang dimarahi, Kurnipun
menjawab dengan nada-nada isyarat pula kalau bukan itu yang jadi penyebab
kemarahan. “Alhamdulillah”, gumanku dalam hati. Sesampai di kota Takalar, terlihat
tentara terjun payung membuat suasana dalam mobil lebih hidup dan sayapun sudah
lupakan tadi apa yang berkecamuk dalam benakku.
Sesampai di Je’neponto sekitar pasar
Taman Roya, mobil berhenti sejenak mengambil Andi Hera, fasilitator AKUEP yang
akan mendampingi tim TGC menuju mitra
AKUEP dan merupakan mitra dampingan Andi Hera. Di bawah terik matahari yang
begitu panas akhirnya tim TGC sampai di tempat tujuan. Tim TGC disambut baik oleh tuan rumah. Tidak lama kemudian, tuan
menyuguhkan kelapa muda. Sambil menikmati hidangan kelapa muda tim TGC menunggu
Hendra wartawan daerah harian fajar yang dikhususkan bertugas di daerah
Je’neponto , taklama kemudian Hendra pun datang bersama temannya, yang memang
mengundang khusus harian fajar untuk memuat berita pada kunjungan lapangan yang
dilaksanakan tim TGC.
Kemudian Hendra dan temannya yang bernama Daeng Sarro dipersilahkan untuk naik
di rumah lalu dipersilahkan menikmati hidangan kelapa muda yang begitu nikmat
dan terasa segar ditenggorakan. Dengan kedatangan Hendra dan Daeng Sarro
wartawan koran cakrawala membuat suasana begitu hidup karena Daeng Sarro yang
sangat peramah, cepat akrab, dan sekali-kali bercanda terkadang kita ketawa,
mungkin karena Daeng Sarro asli orang Je’neponto jadi dia akrab ataukah karena
memang orangnya supel dalam bergaul.
Setelah menikmati hidangan kelapa muda Tim TGC, Hendra, Daeng Sarro, Andi
Hera, dan Tuan rumah menuju tempat pembuatan pengelolah gula merah. Sepanjang
kebun jalan menuju tempat pengelolaan pembuatan gula merah terdapat pohon
lontar. Saya yang memegang handy came di suruh merekam perjalanan menuju tempat
pembuatan gula merah, saya berlari kedepan dengan keadaan tanah yang dijalani
tidak rata dan banyak terdapat rumput ilalang setelah menghampiri pondok
pengelolan gula merah. ± 500 meter yang
dijalani dibawa terik matahari yang begitu panas dari kejauhan terlihat dua atap
pondok pondok.
Tanpa mengambil waktu pembuat gula merah atas nama Ida dipanggil untuk diwawancari
kemudian mengambil tempat dibalai-balai. Ibu yang beranak empat orang ini
menjawab pertanyaan-pertanyan baik dari Darmawan Denassa maupun dari pihak
wartawan. Ibu Ida bersama
suaminya sekitar sepuluh tahun sebagai pembuat
gula merah, setiap hari memasak dan mengaduk gula merah. Begitu pula suaminya setiap hari memanjat pohon lontar untuk
mendapatkan tuak sebagai bahan mentah yang dikelola menjadi gula merah. Setiap
hari pula mendapatkan gula merah sekitar 25-30 biji perhari dengan harga jual
perbiji Rp. 2.000-2.500 perbiji jadi total pendapatan sekitar Rp. 50.000-60.000
perhari. Pasangan suami istri ini merasa
cukup dengan pendapatan yang mereka dapatkan setiap hari untuk menghidupi keempat putra-putrinya. Ibu ida dan
suaminya tak pernah capek ataupun mengeluh walau setiap hari mengaduk dari
pukul 09.00-15.00. pohon lontar ibu ida sekitar 50 pohon yang dipajak, dengan
membayar Rp. 500.000 pertahun.
Kemudian kita kembali menikmati buah lontar suguhan ibu Ida yang sengaja
dipersiapan untuk tamu-tamunya yang sebelumnya sudah disampai oleh Andi Hera kalau
akan kedatangan tamu. Sambil menunggu gula masuk tim TGC secara bergantian memotret
dan mendokumentasikan mengaduk gula merah. Tim TGC sangat menikmati suasana
ini. Sekitar pukul 15.00 gula merah masak kemudian ibu Ida menyendok masuk ke
tempurung kelapa dan satu kakek-kakek mengatur tempurung tersebut, sambil
menunggu gula merah dingin karena ada yang membeli.
Tidak lama kemudian rombongan ini pamit untuk pulang dengan rencana menuju
mitra lain, kembali melanjutkan
perjalanan melakukan pengumpulan informasi praktek baik. Ditengah perjalanan
Andi Hera menelpon temannya menyampaikan kalau akan kedatangan tamu, namun dari
suara Andi Hera sepertinya menolak kedatangan rombongan ini. Dan terdengar juga
dari suara Andi Hera memang rumahnya berantakan karena sementara di renovasi. Disela-sela pembicaraannya pula
kalau rombongan ini diterima dan di persiapan makanan nanti dirumahnya baru
makan.
Sesampai disana, saya tidak menyangkah kalau yang akan didatangi,
sebelumnya saya sudah pernah ketemu pada
kunjungan lapangan yang pertama
ke Je’neponto saat pelatihan tentang
perkoperasian yang dilaksanakan di ruang pertemuan hotel sari yang diadakan lembaga AKUEF. Tidak lama kemudian ibu
Kasmawati Daeng puji
menghidangkan makanan, yang terlihat dipiring ada ikan bakar, pecal, acar, dan
cobek mentah sama jeruk purut yang mengundang selera makan. Kemudian
dipersilahkan makan, waduh enak sekali karena memang semua pada lapar.
Setelah selasai makan proses wawancarapun berlangsung, dari penuturan Daeng
Puji awalnya ia tidak didukung oleh suaminya untuk aktif pada kegiatan atau
menjadi pasilitator, suami Daeng Puji belum
mengerti apa yang dikerjakan oleh istrinya, yang terkadang pulang malam. Kadang
juga kalau pulang malam ditutupi pintu ataupun KDRT. Tapi suatu hari Daeng Puji mengajak suaminya kerumah temannya dimana
melaksanakan kegiatan. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri suaminyapun
mengerti apa yang dikerjakan sang istri selama ini. Akhirnya suaminya mendukung
apa yang dikerjakan oloh Daeng Puji dan sampai saat ini tidak pernah dilarang
lagi untuk beraktivitas diluar rumah.
Sore hari menjelang malam tim TGC kembali melanjutkan perjalanan, tapi
mencari tempat istirahat karena sudah malam. Tim TGC menuju hotel bintang
karaeng disanapun kita nginap sambil melepas rasa capek dan lelah. Sambil menikmati suasana sepi di hotel itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar